Maafkan ibu, nak.Selama ini ibu hanya memikirkan kebutuhan fisikmu saja. Baju baru, mainan baru, makanan bergizi untuk tubuhmu. Padahal kau layak menerima lebih dari itu. Kau layak ditemani ibu bermain, kau layak dipeluk dan dibelai ibu lebih lama, kau pun masih layak tidur dipangkuan ibu. Tapi ibu tak pernah punya waktu yang cukup untuk itu.
Maafkan ibu, nak. Ibu bahkan terlalu sibuk untuk urusan-urusan yang sebenarnya tak perlu ibu urus, seperti bergosip, baca cerita artis yang bahkan tak ibu kenal, nonton film nominasi Oscar, baca buku yang direkomendasi kritikus. Seharusnya waktu ibu itu, ibu pergunakan untuk mengajari main sepeda atau sekedar mendengarkan keluh kesahmu.
Maafkan ibu, nak. Ibu selalu menuntutmu berlaku sopan dan bertutur lembut. Padahal ibu sering mencontohkan hal-hal yang kurang baik kepadamu. Slordig di rumah maupun roadig di jalan, memotong pembicaraan orang tanpa permisi lebih dulu pun sering ibu lakukan.
Maafkan ibu, nak. Yang selalu menuntutmu untuk berprestasi, yang tidak pernah puas dengan nilai yang kau raih, yang selalu menceritakan joke tentang hal-hal yang memalukan dirimu. Ibu sadar, tak sepantasnya itu ibu lakukan. Seharusnya ibu berterima kasih padamu, karena kau telah bekerja keras untuk membuat ibu bangga.
Maafkan ibu, nak. Ibu hanya manusia biasa yang penuh khilaf. Ibu hanya bisa berjanji untuk lebih baik di hari esok, membimbingmu. Menjaga amanat Sang Pencipta. Tiap malam ibu hanya bisa menangis menyesali waktu yang terbuang sia-sia yang seharusnya ibu lewati bersamamu. Ibu hanya bisa berdoa, Semoga Allah senantiasa membuka jalan, memberi kemudahan untukmu untuk bisa survive dan taft menghadapi kerasnya hidup.
Maafkan ibu, nak.
Ps. Tulisan ini, aku buat bukan untuk menyinggung siapapun, tapi lebih pada introspeksi diri sendiri atas hubunganku dengan anak-anakku. Aku cuma ibu rumah tangga biasa yang gelisah apakah mampu menjalankan legenda pribadiku di dunia ini untuk menjadi seorang ibu yang baik untuk anak-anaknya.