Pagi ini, sekitar jam 5, telpon rumahku berdering. Siapa ya? Udah deg-degan takutnya ada berita penting dari Jakarta. Ternyata temanku di Boston, Rahma yang telpon. Sebenarnya aku belum bangun, maklum sekolahku lagi spring break lagipula adzan Shubuh baru jam 5.34 pikirku. Akhirnya aku telpon balik Rahma setelah beres cuci muka dan sikat gigi, rupanya dia sedang dapat musibah. Ibunya meninggal Sabtu lalu. Rahma sedih banget. Memang waktu baru datang ke Boston, January lalu, Rahma sempat cerita, dia khawatir dengan kondisi ibunya yang waktu itu sedang sakit abis jatuh dan mengalami patah tulang.
Aku bisa mengerti perasaannya. Waktu baru 3 minggu menginjakkan kaki di Berkeley. Ayahku tiba-tiba sakit dan harus menjalani operasi prostat. Kaget dan shock banget, karena waktu aku berangkat beliau sehat wal afiat. Ada perasaan bersalah dalam diri. Setiap aku sakit ayah dan ibuku selalu ada disampingku. Bahkan waktu aku dirawat di rumah sakit Mei lalu, ayah ibu meluangkan waktu merawat anak-anakku. Tapi disaat ayah sakit kemarin, aku malah berada di belahan dunia yang lain, ribuan kilometer dari sisinya. Aku cuma bisa nangis aja saat itu. Ibu menenangkanku, ini bukan operasi besar katanya, gak usah khawatir, bantu doa dari sana ya. Alhamdulillah sekarang ayah sudah sehat kembali.
Ini salah satu dilema kita yang berada di negri orang. Tidak ada yang tau sampai kapan usia kita. Yang paling berat meninggalkan keluarga di Indonesia ya kekhawatiran masih adakah kesempatan untuk berkumpul lagi. Setiap doaku, selalu minta semoga aku masih diberi kesempatan berkumpul dan berbakti pada orang tua.
Buat Rahma dan kak Jajang, sabar ya. Sekarang ibu udah tenang dan gak lagi menahan sakit yang berkepanjangan. Semoga ibu mendapat tempat yang layak disisi-Nya sesuai amal perbuatannya.